BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan
dunia pendidikan saat ini sedang memasuki era yang ditandai dengan gencarnya
inovasi teknologi, sehingga menuntut adanya penyesuaian sistem pendidikan yang
selaras dengan tuntutan dunia kerja. Pendidikan harus mencerminkan proses
memanusiakan manusia dalam arti mengaktualisasikan semua potensi yang
dimilikinya menjadi kemampuan yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan
sehari-hari di masyarakat luas.
Tingkat
keberhasilan pembangunan nasional Indonesia di segala bidang akan sangat
bergantung pada sumber daya manusia sebagai aset bangsa dalam mengoptimalkan
dan memaksimalkan perkembangan seluruh sumber daya manusia yang dimiliki. Upaya
tersebut dapat dilakukan dan ditempuh melalui pendidikan, baik melalui jalur
pendidikan formal maupun jalur pendidikan non formal. Salah satu lembaga pada
jalur pendidikan formal yang menyiapkan lulusannya untuk memiliki keunggulan di
dunia kerja, diantaranya melalui jalur pendidikan kejuruan.
Pendidikan kejuruan adalah pendidikan
yang menghubungkan, menjodohkan, melatih manusia agar memiliki kebiasaan
bekerja untuk dapat memasuki dan berkembang pada dunia kerja (industri),
sehingga dapat dipergunakan untuk memperbaiki kehidupannya.
Memahami pendapat di atas dapat diketahui
bahwa pendidikan kejuruan berhubungan dengan mempersiapkan seseorang untuk
bekerja dan dengan memperbaiki pelatihan potensi tenaga kerja. Hal ini meliputi
berbagai bentuk pendidikan, pelatihan, atau pelatihan lebih lanjut yang
dibentuk untuk mempersiapkan seseorang untuk memasuki atau melanjutkan
pekerjaan dalam suatu jabatan yang sah.
Dalam proses pendidikan kejuruan perlu
ditanamkan pada siswa pentingnya penguasaan pengetahuan dan teknologi,
keterampilan bekerja, sikap mandiri, efektif dan efisien dan pentingnya
keinginan sukses dalam karirnya sepanjang hayat.
1.2 Rumusan Masalah
Sejalan dengan latar belakang masalah di
atas, penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa
saja bentuk-bentuk pendidikan kejuruan ?
2. Bagaimana
sistem pendidikan kejuruan di Indonesia ?
1.3 Tujuan
Tujuan
dari makalah ini adalah :
1. Mengetahui bentuk pendidikan kejuruan
2. Mengetahui
sistem pendidikan di Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pendidikan Kejuruan bentuk
Persekolahan
Model ini sifatnya birokrat, pemerintah
dalam hal ini yang menentukan jenis pendidikan apa yang harus dilaksanakan di
perusahaan, bagaimana desain silabusnya, begitu pula dalam hal pendanaan dan
pelatihan yang harus dilaksanakan oleh perusahaan tidak selalu berdasarkan
permintaan kebutuhan tenaga kerja ataupun jenis pekerjaan saat itu. Dalam hal
ini, pemerintah sendiri yang melakukan perencanaan, pengorganisasian, dan
pengendalian pendidikan kejuruan. Walaupun model ini disebut juga model
sekolah (school model), pelatihan dapat dilaksanakan sepenuhnya di perusahaan.
Pendidikan kejuruan dilaksanakan di
sekolah negeri maupun swasta, baik yang memiliki pabrik maupun tidak. Di
Indonesia yang termasuk kelompok ini adalah semua SMKTP dan SMKTA, Politeknik
dan 153 BLK/KLK.
Pendidikan kejuruan tingkat pertama yang
berorientasi pada praktik, dilaksanakan di sekolah saja, mengandung risiko
besar, yaitu jauh dari praktik dan terlalu banyak teori, sebab proses produksi
di pabrik dan realitas ekonomi, maksimal hanya dapat disampaikan melalui
simulasi selama berlangsungnya pelajaran. Selain itu, pendidikan kejuruan model
ini sangat mahal, sehingga Negara tidak mungkin mengeluarkan anggaran yang
jumlahnya sangat besar untuk menyelenggarakan pendidikan kejuruan bagi sebagian
besar generasi muda.
Pendidikan kejuruan bentuk persekolah, yaitu pemberian pelajaran (umum, kejuruan, dan
nilai/norma/sikap ) sepenuhnya dilaksanakan di sekolah. Model ini berasumsi
bahwa segala hal yang terjadi di tempat kerja dapat diajarkan di sekolah dan
sumber belajar ada di sekolah. Model
ini paling banyak dipraktekkan di Indonesia sebelum repelita VI. Model sekolah
ini banyak dikritik karena boros atau tidak efisien, kurang mampu menjaga
relevansi, kurang muktahir dan konservatif.
Karena itu di Swis, Australia dan Jerman
pendidikan kejuruan untuk mencetak pekerja terampil tidak dilaksanakan dalam
bentuk sekolah murni.
Melalui program “training cum
production” atau “training and production”, sekolah-sekolah yang berproduksi
atau perusahaan-perusahaan yang memiliki divisi pendidikan dan pelatihan
berusaha untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang dilaksanakan di atas.
Sebagian berhasil baik, tetapi sangat jarang yang dapat sampai menutupi biaya
pendidikan dan pelatihan.
Sekolah kejuruan yang berproduksi di
Indonesia, yang bisa dibilang berhasil adalah :
a.
Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI)
Solo
b.
PICA Semarang
c.
Politeknik Mekanik Swis Bandung
d.
VEDC Malang
e.
YBE Jakarta
f.
BLIB Bandung
Di Jerman, bentuk sekolah murni
diterapkan dengan hasil baik dalam pendidikan kejuruan lanjutan untuk orang
dewasa, sebab pesertanya sudah memiliki dasar praktik yang memadai pada saat
mengikuti pendidikan kejuruan pertama.
2.2
Pendidikan Kejuruan di Perusahaan
Dalam model ini, pemerintah tidak
memiliki peran, atau perannya hanya bersifat marginal dalam proses kualifikasi
pendidikan kejuruan. Model ini sifatnya liberal, namun model ini juga
berorientasi pada pasar (market-oriented model) permintaan tenaga kerja.
Perusahaan-perusahaan sebagai pemeran utama juga dapat menciptakan desain
pendidikan kejuruan yang tidak harus berdasarkan pada prinsip pendidikan yang
bersifat umum, dan pemerintah dalam hal ini tidak memiliki pengaruh kuat dalam
melakukan intervensi terhadap perusahaan karena dalam hal ini perusahaan adalah
sebagai sponsor dan pendukung dana.
Sumber Daya Manusia dalam suatu
perusahaan merupakan aset penting bagi perkembangan perusahaan. Untuk
meningkatkan kualitas dan keterampilan kerja para karyawan, banyak perusahaan
mengadakan pelatihan kerja/training sebelum karyawan memulai kerja.
Di perusahaan , pendidikan kejuruan dimuali
dengan latihan dasar (kerja bangku) dan langsung dilanjutkan di bagian produksi
berupa “on the job” dengan penekanan pada praktik yang terspesialisasi.
Negara-negara yang menganut model ini adalah Inggris, Amerika Serikat dan
Jepang.
Bentuk pendidikan semacam ini
dilaksanakan hampir di semua perusahaan besar di Jepang dan beberapa di
Indonesia (misalnya ASTRA Grup, Siemens, P. T. Star Motors, PINDAD, IPTN, IFED
dsb), berorientasi sepenuhnya pada pasar, serta tidak merujuk pada
ketentuan-ketentuan resmi dan dijalankan sepenuhnya secara mandiri.
Lulusan biasanya tidak memperoleh ijazah
yang diakui resmi oleh Negara, melainkan hanya berupa sertifikat yang
diterbitkan oleh perusahaan yang bersangkutan. Peningkatan karier dalam
pekerjaan biasanya bergantung pada prestasi selama pendidikan dan penataran di
perusahaan dan kinerja serta motivasi kerja selama di perusahaan (kompetensi
perilakunya).
Dengan sistem itu, perusahaan-perusahaan
di Jepang dan diantaranya di Indonesia memenuhi akan pekerja terampil pada
semua jenjang, dimana ijazah pendidikan formal yang dimiliki turut menentikan
karier.
2.2.3
Manfaat Pelatihan Kerja
Ada banyak manfaat yang bisa kita ambil
dengan mengikuti pelatihan kerja. Diantaranya adalah:
a. mewujudkan
pelatihan kerja nasional yang efektif dan efisien dalam rangka meningkatkan
kualitas tenaga kerja
b. memberikan
arah dan pedoman dalam penyelenggaraan, pembinaan, dan pengendalian pelatihan
kerja
c. mengoptimalkan
pendayagunaan dan pemberdayaan seluruh sumber daya pelatihan kerja.
d. Untuk
menyesuaikan diri terhadap tuntutan bisnis dan operasional-operasional industri
sejak hari pertama masuk kerja
e. Untuk
mengurangi waktu belajar bagi karyawan baru agar menjadi kompeten.
f. Untuk
mempersiapkan promosi ketenagakerjaan pada jabatan yang lebih rumit dan sulit,
serta mempersiapkan tenaga kerja pada jabatan yang lebih tinggi yaitu tingkatan
kepengawasan atau manajerial.
2.2.2
Jenis Pelatihan Kerja
1. Skill
Training
Pelatihan keahlian merupakan pelatihan
yang sering di jumpai dalam organisasi. Program pelatihaannya relatif
sederhana: kebutuhan atau kekurangan diidentifikasi rnelalui penilaian yang
jeli. Kriteria penilaian efektifitas pelatihan juga berdasarkan pada sasaran
yang diidentifikasi dalam tahap penilaian.
2. Retraining
Pelatihan ulang berupaya memberikan
kepada para karyawan keahlian-keahlian yang mereka butuhkan untuk menghadapi
tuntutan kerja yang berubah-ubah. Seperti tenaga kerja instansi pendidikan yang
biasanya bekerja rnenggunakan mesin ketik manual mungkin harus dilatih dengan
mesin computer atau akses internet
3. Cross
functional training
Pelatihan lintas fungsional melibatkan
pelatihan karyawan untuk melakukan aktivitas kerja dalam bidang lainnya selain
dan pekerjan yang ditugaskan.
4. Team
training
Pelatihan tim merupakan pelatihan yang
terdiri dari sekelompok individu dimana mereka harus menyelesaikan bersama
sebuah pekerjaan demi tujuan bersama dalam tim.
5. Creativity
training
Pelatihan kreatifitas berlandaskan pada
asumsi hahwa kreativitas dapat dipelajari. Maksudnya tenaga kerja diberikan
peluang untuk mengeluarkan gagasan sebebas mungkin yang berdasar pada penilaian
rasional dan biaya.
2.2.3
Metode Pelatihan Kerja
Teknik pelatihan kerja secara umum
dibagi menjadi dua yaitu on the job training dan off the job training. On the
job training lebih banyak digunakan dibandingkan dengan off the job training.
Karena program on the job training lebih berfokus pada peningkatan
produktivitas secara cepat. Sedangkan metode off the job training lebih
cenderung berfokus pada perkembangan dan pendidikan jangka panjang.
1.
On
the Job Training
On the Job Training adalah suatu proses
yang terorganisasi untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan, kebiasaan
kerja dan sikap karyawan. Dengan kata lain On the Job Training adalah pelatihan
dengan cara pekerja atau calon pekerja ditempatkan dalam kondisi pekerjaan yang
sebenarnya, dibawah bimbingan dan pengawasan dari pegawai yang telah
berpengalaman atau seorang supervisor. Adapun ciri dari on the job training itu
sendiri adalah:
a. Dilaksanakan
di tempat kerja
b. Dilaksanakan
pada setiap karyawan baru, pindah ke bagian lain (mutasi), yang berganti tugas
dan tanggung jawabnya, karyawan yang menunjukkan prestasi kurang baik dalam
pekerjaannya
c. Dilaksanakan
untuk memberikan kecakapan yang diperlukan dalam pekerjaan tertentu sesuai
dengan tuntutan kemampuan bagi pekerjaan tersebut sebagai alat untuk kenaikan
jabatan
d. Pengetahuan/keterampilan
berupa pengalaman (praktik langsung)
e. Dilaksanakan
secara individual
f. Biaya
relatif kecil
2.
Off The Job Training
Off the Job Training atau pelatihan di
luar kerja adalah pelatihan yang berlangsung pada waktu karyawan yang dilatih
tidak melaksanakan pekerjaan rutin/biasa. Ciri dari off the job training adalah
:
a. Dilaksanakan dalam suatu
ruangan/kelas (di luar tempat kerja)/ dilaksanakan pada lokasi terpisah dengan
tempat kerja
b. Dilaksanakan pada karyawan yang
bekerja tetap untuk mengembangkan diri dan pengembangan karir
c. Dipergunakan apabila banyak pekerja
yang harus dilatih dengan cepat seperti halnya dalam penguasaan pekerjaan
d. Pengetahuan/keterampilan berupa
konsep (teori)
e. Dilaksanakan secara kelompok
f. Biaya relatif besar
2.3
Pendidikan Kejuruan Bentuk Kooperatif
Pemerintah menyiapkan dan memberikan
kondisi yang relatif terpadu dalam pendidikan kejuruan bagi
perusahaan-perusahaan swasta dan sponsor swasta lainnya. Model ini disebut
juga model pasar dikontrol pemerintah (state controlled market), model
ini disebut model sistem ganda (dual system) yang sistem pembelajarannya
dilaksanakan di dua lokasi, yaitu di sekolah kejuruan dan di mitra kerja (dunia
usaha dan industri) yang keduanya saling
membantu dalam menciptakan kemampuan kerja lulusan yang handal.
Tanpa diadakannya pendidikan sistem ganda
ini kita tidak dapat langsung terjun ke dunia industri karena kita belum
mengetahui situasi dan kondisi lingkungan kerja. Selain itu perusahaan tidak
dapat mengetahui mana tenaga kerja yang profesional dan mana tenaga kerja yang
tidak profesional. Pendidikan Sistem Ganda memang harus dilaksanakan karena
dapat menguntungkan semua pihak yang melaksanakannya.
Pendidikan
kejuruan bentuk kooperatif atau sistem ganda ini berhasil dan murah di Jerman, Korea
Selatan, Australia, Swis, Singapura dan di negara-negara Amerika Latin.
Di dalam sistem ganda dikenal dengan dua
tempat belajar :
a.
Divisi pendidikan dan pelatihan untuk
pendidikan praktik
b.
Sekolah kejuruan untuk pendidikan teori
Konsep
pendidikan sistem ganda pada SMK (1996: 8) menyebutkan tujuan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan dengan pendekatan PSG
adalah:
1.
Menghasilkan
tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional, yaitu tenaga kerja yang
memiliki tingkat pengetahuan, keterampilan, dan etos kerja yang sesuai dengan
tuntutan lapangan kerja.
2.
Meningkatkan
dan memperkokoh keterkaitan dan kesepadanan (link and match) antara
lembaga pendidikan pelatihan kejuruan dan dunia kerja.
3.
Meningkatkan
efisiensi proses pendidikan dan pelatihan kerja berkualitas profesional.
4.
Memberi
pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman keja sebagai bagian dari proses
pendidikan.
2.3.1
Kecenderungna di Indonesia
Indonesia
merencanakan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan sistem pendidikan
kejuruan sistem ganda dengan melibatkan dunia usaha. Persiapan-persiapan ke
arah itu telah dilakukan di tingkat pemerintahan pusat.
Pendidikan
kejuruan tingkat pertama dengan sistem ganda telah dilaksanakan oleh P. T PAL
bekerja sama dengan STM perkapalan Surabaya sejak beberapa tahun yang lalu. P.
T. PAL menyajikan praktik dan STM Perkapalan menyajikan teori. Selesai
mengikuti pendidikan dan pelatihan, di samping memperoleh ijazah STM, para
siswa juga menerima sertifikat pekerja terampil. Sehingga dengan adanya kedua
pencapaian tersebut, mereka dapat dikatakan memiliki kualifikasi ganda.
Di
Jerman tingkat itu setara dengan Fachhochschulreife (Ijazah SLTA) plus
kualifikasi pekerja terampil. Dengan kualifikasi tersebut, para lulusan dapat
melanjutkan pendidikan untuk meningkatkan jenjang kejuruan, misalnya ke
politeknik atau bahkan ke universitas bila nilai ijazahnya sangat baik. Pada
situasi ini pengalaman praktik yang telah dihimpun, akan sangat bermanfaat
dalam menempuh perkuliahan. Selain itu, dengan adanya kualifikasi keterampilan yang
telah dimiliki, para lulusan dapat bekerja di perusahaan dengan baik.
Karena
pelatihan dengan P.T. PAL tumbuh lulusan-lulusan dengan kualifikasi baik. Namun
meskipun begitu, hanya sebagian kecil dari lulusan yang dapat diterima bekerja
di P.T PAL. Sedangkan sebagian besar diserap oleh perusahaan-perusahaan yang
lebih kecil. Dengan demikian P.T. PAL telah menyumbangkan kontribusi penting
dalam penyediaan pekerja terampil bagi perusahaan menengah dan kecil.
Model
pendidikan ini sangatlah patut untuk ditiru, karena lulusan dari model
pendidikan semacam itu dapat diserap oleh perusahaan-perusahaan kecil dan
menengah dalam keadaan siap pakai.
Dengan
kesuksesnya kerjasama antara P.T. PAL dan STM Perkapalan Surabaya dalam
melahirkan lulusan yang berkompeten, maka dapat dikatakan bahwa kedua instansi
tersebur merupakan pelopor dalam pelaksanaan kejuruan sistem ganda di
Indonesia. Dari situ dapat dihimpun pengalaman kemudian dievaluasi dan
direvisi.
2.3.2
Pendidikan Kejuruan Sistem Ganda di Jerman
Peran
pemerintah dan dunia usaha dalam penyelenggaraan pendidikan kejuruan di Jerman
adalah seimbang. Pemerintah menyusun dan mengesahkan kerang acuan
(Undang-undang, peraturan, petunjuk pelaksanaan pendidikan) sebagai ediman
pengorganisasian dan pelaksanaan pendidikan, evaluasi, sertifikasi dan pembagian kewenangan
antara pihak-pihak terkait.
Dunia
usaha melaksanakan kegiatan pendidikan dan pelatihan secara terpisah dengan
berpedoman pada peraturan-peraturan resmi. Biaya pendidikan dan pelatihan
ditanggung oleh perusahaan dan dimasukan ke dalam ongkos produksi. Terutama
perusahaan-perusahaan kecil dan menengah dapat menutupi kembali biaya yang
telah dikeluarkan melalui hasil kerja para pemagang pada tahun pemagangan kedua
dan ketiga.
Peranana
lain dari pemerintah dalam pelaksanaan pendidikan dan pelatihan adalah berupa
penyajian pelajaran teori dan pengetahuan umum yang dilaksanakan di sekolah
kejuruan negeri.
Pada
tahap awal pendidikan dan pelatihan perusahaan harus menginvestasikan uangnya
untuk pelaksanaan pemagangan. Pada tahap ini pemagang belum produktif karena
mereka belum memiliki pengetahuan dan keterampilan. Namun setahap demi setahap kompetensi
perilaku mereka bertambah sejalan dengan proses pemagangan itu sendiri,
sehingga kontribusi mereka dalam proses produksi mereka makin meningkat pula.
Dengan kata lain, uang yang telah dikeluarkan oleh perusahaan untuk pelaksaan pendidikan dan pelatihan pada
tahap awal akan tertutupmelalui “on the job training” dan melalui produktivitas
pemagang yang kian meningkat. Oleh sebab itu konsep pendidikan praktik di
perusahaan harus disusun sedemikian rupa supaya titik rehabilitas dapat dicapat
secepat mungkin, tentunya dengan tetap memperhatikan materi pendidikan dan
pelatihan yang harus disampaikan kualitas pelatihan dan pendidikan itu sendiri.
Hampir
pada semua kejuruan, titik rehabilitas baru dapat dicapai pada tahun pemagangan
kedua.
1.
Keuntungan-keuntungan Pendidikan Sitem Ganda di Jerman
Keterlibatan
langsung dunia usaha dalam pendidikan kejuruan, misalnya di Jerman, memiliki
keuntungan-keuntungan sebgai berikut :
a. Menjamin
terselenggaranya proses-proses pendidikan yang fleksibel dan berorientasi pada
praktik sehingga pencetakan tenaga terampil berlangsung secara realistis,
sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan selalu mengikuti perkembangan teknologi
modern.
b. Sebagian
besar biaya pendidikan dan pelatihan ditanggung oleh perusahaan sebab untuk
menyelenggarakan pendidikan kejuruan yang berkualitas baik dan dapat menampung
sebagian besar generasi muda, tidak mungkin dananya hanya ditanggung oleh
Negara. Perusahaan memasukkan biaya
penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kedalam ongkos produksi. Namun
seperti sudah diterangkan, pendidikan praktik di perusahaan dikonsep sedemikian
rupa sehingga investasi perusahaan , yang jumlahnya tidak sedikit, untuk
pendidikan dan pelatihan terutama pada tahun ajaran pertama, dapat ditomboki
melalui kontribusi yang produktif dari pemagang pada tahun ajaran berikutnya.
c. Dengan
cara demikianlah, perusahaan-perusahaan di Jerman dapat memperoleh tenaga kerja
professional yang sesuai dengan kebutuhan. Di jerman hal ini dapat berjalan
dengan lancar karena dunia usaha sejak berabad-abad menyatakan diri “Secara
Sukarela” bertanggung jawab dan berkompeten dalam penyelenggaraan pendidikan
kejuruan. Sampai kini tidak ada peraturan yang mewajibkan dunia usaha untuk
ambil bagian dalam pendidikan kejuruan !
d. Karena
asas pelaksanaan pendidikan kejuruan sitem ganda ditunjukan “untuk semua”, maka
ribuan perusahaan, baik yang berskala kecil, menengah maupun besar, menyediakan
tempat pemagangan dengan jumlah melebihi kebutuhannya sendiri. Setelah selesai
pendidikan tidak ada keharusan bagi siswa untuk bekerja di perusahaan tempat ia
magang, atau keharusan bagi perusahaan untuk merekrut siswa yang telah dididik
di perusahaan tersebut. Masing-masing pihak memiliki kebebasan utuk menentukan
pilihannya.
e. Dengan
terciptanya koordinasi internal yang baik di setiap perusahaan dan sekolah
kejuruan berlangsung baik, maka sistem pendidikan kejuruan yang berlandaskan
kerja sama ini akan mengungguli pendidikan yang hanya dilaksanakan di sekolah
kejuruan saja atau hanya di perusahaan saja. Alasannya adalah karena praktik
yang dilaksanakan di perusahaan diperjelas dengan teori yang diberikan di
sekolah kejuruan dan teori dari sekolah kejuruan sekaligus divisualisasikan
secara realistis di perusahaan, sehingga akan lebih mudah “dicerna”.
2. Permasalahan
Pendidikan Sistem Ganda di Jerman
Tetapi
pendidikan kejuruan sistem ganda di Jerman bukan berarti tidak mengandung
masalah, seperti diuraikan berikut :
a. Pendidikan
kejuruan di perusahaan bergantung pada laju ekonomi. Artinya, jika laju ekonomi
rendah, perusahaan tidak akan mampu meneyediakan tempat pemagangan dalam jumlah
yang memadai, sehingga tidak mampumenampung permintaan, sebab-seperti
dikemukakan tadi-tidak ada peraturan yang mengharuskan perusahaan untuk
melakukan itu.
b. Perbedaan
kualitas pendidikan, terutama pada pendidikan on the job, di mana
perusahaan-perusahaan besar pendidikan dan pelatihan berlangsung lebih efektif
karena ditunjang oleh tersedianya tenaga pengajar yang terdidik khusus dan
sarana teknologi yang lebih modern dan lengkap. Sedangkan perusahaan-perusahaan
kecil mengalami kesulitan dalam hal itu. Pengkhususan-pengkhususan bidang usaha
di perusahaan-perusahaan menyulitkan penyusunan dan pelaksanaan program
pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan standar. Melalui pemusatan
pendidikan dan pelatihan yang dikelola oleh Kadin, dimana pendidikan kejuruan
dasar dan lanjut dilaksanakan untuk memperkecil kesenjangan tersebut, sekaligus
untuk memenuhi standar kurikulum yang sudah digariskan, baik secara kuantitatif
maupun secara kualitatif.
c. Koordinasi
yang efektif antara dua tempat pendidikan dan pelatihan, yaitu sekolah kejuruan
dan perusahaan, kerap kali sulit dicapai karena keduanya memiliki kepentingan
dan muatan kurikulum yang berbeda, misalnya perusahaan lebih cenderung
berorientasi pada produksi.
d. Transparansi
antara sistem pendidikan formal dan sistem pendidikan kejuruan tidak dapat
diajmin begitu saja, sebab kesetaraan anatara keduanya tidak mudah dicapai.
Dengan
segala kelebihan dan permasalahna yang telah diuraikan diatasm sistem
pendidikan kejuruan Republik Federasi Jerman kini sudah menjadi unsur yang
tidak terpisahkan dari budaya Jerman, setelah sebelumnya secra berabad-abad
mengalami perkembangan dan perubahan.
2.4 Transparansi Pendidikan
Kejuruan
Dalam sistem pendidikan
Indonesia belum terdapat transparansi antara pendidikan formal dan pendidikan
kejuruan. Setelah dibahas sekitar 10 tahun, disahkanlah undang-undang
pendidikan baru dan ‘sistem pendidikan kejuruan’ baru dalam tahap penataan.
Untuk itu alangkah baiknya apabila sejak awal mempertimbangkan
pula aspek “transparansi” dalam rangka reformasi pendidikan yang akan segera
diberlakukan dan mencantumkannya dalam petunjuk pelaksanaan. Prinsip-prinsip
berikut hendaknya diperhatikan :
1.
Jalur pendidikan kejuruan nonakademis
mempunyai karakteristik tersendiri yang nilainya sama dengan jalur pendidikan
formal apabila mampu mentransfer kompetensi kejuruan yang berorientasi penuh
pada praktik. Pelajaran teori harus diaplikasikan pada praktik di bengkel dan
dalam proses produksi di pabrik. Pelajaran praktik dipertegas denga teori.
2.
Tetapi masyarakat di Negara berkembang
cenderung menilai bahwa pendidikan yang banyak teorinya lebih tinggi daripada
pendidikan yang berorientasi pada praktik. Ironisnya pandangan ini pun terdapat
di Negara-negara industri, termasuk Jerman.
3.
Pendidikan yang berorientasi pada
praktik dan dilengkapi dengan pelajaran
teori merupakan proses pendidikan yang sangat kompleks dengan tujuan untuk
membekali siswa dengan kualifikasi kejuruan tertentu, supaya mampu berprestasi
untuk kepentingan diri sendiri, perusahaan dan untuk masyarakat. Dikatakan
kompleks karena selalu mencakup ketiga bidang belajar, yaitu kognitif,
psikomotorik dan afektif. Dalam konteks ini, yang dimaksud adalah “dari kepala
ke hati kemudian ke tangan“, seperti yang dikatakan oleh H. Nolker dan E.
Schonfeldt.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa
pendidikan kejuruan sangatlah berperan penting dalam membangun kompetensi
perilaku dalam bidang kejuruan tertentu.
Bentuk-bentuk pendidikan kejuruan diantaranya adalah
bentuk persekolahan, pendidikan perusahaan dan bentuk kooferatif.
Indonesia telah menerapkan bentuk pendidikan
kejuruan kooferatif (Pendidikan Sistem Ganda), dimana dengan adanya kerjasama
antara sekolah dan perusahaan dapat menghasilkan lulusan yang berkompetensi,
karena selain mempunyai landasan teori yang baik juga mempunyai pengalaman
praktik lapangan yang luas.
3.2 Saran
Dari
kesimpulan yang dijabarkan, maka dapat diberikan saran :
Koordinasi antara tempat pendidikan dan perusahaan
harus dijaga kelangsungannya dengan baik. Pembelajaran teori yang diberikan di
sekolah harus sesuai dengan pelatihan yang akan dilakukan dengan kondisi
perusahaan, sehingga tidak menimbulkan masalah anatara keduanya.
DAFTAR
PUSTAKA
Schippers,Uwe. & Djadjang Madya
Patrin.(1994). Pendidikan Kejuruan
Indonesia (hlm 40-51). Bandung : Percetakan Angkasa.
Nur Rizky, Rahmad (2015). Pengembangan dan pelatihan metode On The Job
Training. [Online]. Tersedia : http://rahmadnurrizky.blogspot.co.id/2014/04/pengembangan-dan-pelatihan-metode-on.html,
5 Maret 2016.
Zahidi, Syukron (2014). Pendidikan Kejuruan.[Online].Tersedia :http://izzaucon.blogspot.co.id/2014/06/pendidikan-kejuruan.html,
4 Maret 2016
KSBSI (2016). Pentingnya Pelatihan Kerja . [Online]. Tersedia :http://www.gajimu.com/main/tips-karir/pentingnya-pelatihan-kerja, 5 Maret 2016.
Salam, Ratnasari (2015). Tantangan SMK. [Online]. Tersedia : http://everyonelookmylife.blogspot.co.id/2015/04/tantangan-smk_99.html , 5 Maret 2016.
Untuk siapa saja yang membuka halaman ini, mohon komentarnya ya... :)
BalasHapuskritik dan saran yang membangun sangat diharapkan keberadaannya :)
terimakasih