Minggu, 05 Juni 2016

BENTUK-BENTUK PENDIDIKAN KEJURUAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Perkembangan dunia pendidikan saat ini sedang memasuki era yang ditandai dengan gencarnya inovasi teknologi, sehingga menuntut adanya penyesuaian sistem pendidikan yang selaras dengan tuntutan dunia kerja. Pendidikan harus mencerminkan proses memanusiakan manusia dalam arti mengaktualisasikan semua potensi yang dimilikinya menjadi kemampuan yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat luas.
Tingkat keberhasilan pembangunan nasional Indonesia di segala bidang akan sangat bergantung pada sumber daya manusia sebagai aset bangsa dalam mengoptimalkan dan memaksimalkan perkembangan seluruh sumber daya manusia yang dimiliki. Upaya tersebut dapat dilakukan dan ditempuh melalui pendidikan, baik melalui jalur pendidikan formal maupun jalur pendidikan non formal. Salah satu lembaga pada jalur pendidikan formal yang menyiapkan lulusannya untuk memiliki keunggulan di dunia kerja, diantaranya melalui jalur pendidikan kejuruan.
Pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang menghubungkan, menjodohkan, melatih manusia agar memiliki kebiasaan bekerja untuk dapat memasuki dan berkembang pada dunia kerja (industri), sehingga dapat dipergunakan untuk memperbaiki kehidupannya.

Memahami pendapat di atas dapat diketahui bahwa pendidikan kejuruan berhubungan dengan mempersiapkan seseorang untuk bekerja dan dengan memperbaiki pelatihan potensi tenaga kerja. Hal ini meliputi berbagai bentuk pendidikan, pelatihan, atau pelatihan lebih lanjut yang dibentuk untuk mempersiapkan seseorang untuk memasuki atau melanjutkan pekerjaan dalam suatu jabatan yang sah.
Dalam proses pendidikan kejuruan perlu ditanamkan pada siswa pentingnya penguasaan pengetahuan dan teknologi, keterampilan bekerja, sikap mandiri, efektif dan efisien dan pentingnya keinginan sukses dalam karirnya sepanjang hayat.  
1.2  Rumusan Masalah
Sejalan dengan latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apa saja bentuk-bentuk pendidikan kejuruan ?
2.      Bagaimana sistem pendidikan kejuruan di Indonesia ?
1.3  Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah :
1.      Mengetahui  bentuk pendidikan kejuruan
2.      Mengetahui sistem pendidikan di Indonesia





BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pendidikan Kejuruan bentuk Persekolahan
Model ini sifatnya birokrat, pemerintah dalam hal ini yang menentukan jenis pendidikan apa yang harus dilaksanakan di perusahaan, bagaimana desain silabusnya, begitu pula dalam hal pendanaan dan pelatihan yang harus dilaksanakan oleh perusahaan tidak selalu berdasarkan permintaan kebutuhan tenaga kerja ataupun jenis pekerjaan saat itu. Dalam hal ini, pemerintah sendiri yang melakukan perencanaan, pengorganisasian, dan pengendalian pendidikan kejuruan.  Walaupun model ini disebut juga model sekolah (school model), pelatihan dapat dilaksanakan sepenuhnya di perusahaan.
Pendidikan kejuruan dilaksanakan di sekolah negeri maupun swasta, baik yang memiliki pabrik maupun tidak. Di Indonesia yang termasuk kelompok ini adalah semua SMKTP dan SMKTA, Politeknik dan 153 BLK/KLK.
Pendidikan kejuruan tingkat pertama yang berorientasi pada praktik, dilaksanakan di sekolah saja, mengandung risiko besar, yaitu jauh dari praktik dan terlalu banyak teori, sebab proses produksi di pabrik dan realitas ekonomi, maksimal hanya dapat disampaikan melalui simulasi selama berlangsungnya pelajaran. Selain itu, pendidikan kejuruan model ini sangat mahal, sehingga Negara tidak mungkin mengeluarkan anggaran yang jumlahnya sangat besar untuk menyelenggarakan pendidikan kejuruan bagi sebagian besar generasi muda.
Pendidikan kejuruan bentuk persekolah, yaitu pemberian pelajaran (umum, kejuruan, dan nilai/norma/sikap ) sepenuhnya dilaksanakan di sekolah. Model ini berasumsi bahwa segala hal yang terjadi di tempat kerja dapat diajarkan di sekolah dan sumber belajar ada di sekolah. Model ini paling banyak dipraktekkan di Indonesia sebelum repelita VI. Model sekolah ini banyak dikritik karena boros atau tidak efisien, kurang mampu menjaga relevansi, kurang muktahir dan konservatif.
Karena itu di Swis, Australia dan Jerman pendidikan kejuruan untuk mencetak pekerja terampil tidak dilaksanakan dalam bentuk sekolah murni.
Melalui program “training cum production” atau “training and production”, sekolah-sekolah yang berproduksi atau perusahaan-perusahaan yang memiliki divisi pendidikan dan pelatihan berusaha untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang dilaksanakan di atas. Sebagian berhasil baik, tetapi sangat jarang yang dapat sampai menutupi biaya pendidikan dan pelatihan.
Sekolah kejuruan yang berproduksi di Indonesia, yang bisa dibilang berhasil adalah :
a.         Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Solo
b.         PICA Semarang
c.         Politeknik Mekanik Swis Bandung
d.        VEDC Malang
e.         YBE Jakarta
f.          BLIB Bandung
Di Jerman, bentuk sekolah murni diterapkan dengan hasil baik dalam pendidikan kejuruan lanjutan untuk orang dewasa, sebab pesertanya sudah memiliki dasar praktik yang memadai pada saat mengikuti pendidikan kejuruan pertama.
2.2 Pendidikan Kejuruan di Perusahaan
Dalam model ini, pemerintah tidak memiliki peran, atau perannya hanya bersifat marginal dalam proses kualifikasi pendidikan kejuruan.  Model ini sifatnya liberal, namun model ini juga berorientasi pada pasar (market-oriented model) permintaan tenaga kerja.  Perusahaan-perusahaan sebagai pemeran utama juga dapat menciptakan desain pendidikan kejuruan yang tidak harus berdasarkan pada prinsip pendidikan yang bersifat umum, dan pemerintah dalam hal ini tidak memiliki pengaruh kuat dalam melakukan intervensi terhadap perusahaan karena dalam hal ini perusahaan adalah sebagai sponsor dan pendukung dana. 
Sumber Daya Manusia dalam suatu perusahaan merupakan aset penting bagi perkembangan perusahaan. Untuk meningkatkan kualitas dan keterampilan kerja para karyawan, banyak perusahaan mengadakan pelatihan kerja/training sebelum karyawan memulai kerja.
 Di perusahaan , pendidikan kejuruan dimuali dengan latihan dasar (kerja bangku) dan langsung dilanjutkan di bagian produksi berupa “on the job” dengan penekanan pada praktik yang terspesialisasi. Negara-negara yang menganut model ini adalah Inggris, Amerika Serikat dan Jepang.
Bentuk pendidikan semacam ini dilaksanakan hampir di semua perusahaan besar di Jepang dan beberapa di Indonesia (misalnya ASTRA Grup, Siemens, P. T. Star Motors, PINDAD, IPTN, IFED dsb), berorientasi sepenuhnya pada pasar, serta tidak merujuk pada ketentuan-ketentuan resmi dan dijalankan sepenuhnya secara mandiri.
Lulusan biasanya tidak memperoleh ijazah yang diakui resmi oleh Negara, melainkan hanya berupa sertifikat yang diterbitkan oleh perusahaan yang bersangkutan. Peningkatan karier dalam pekerjaan biasanya bergantung pada prestasi selama pendidikan dan penataran di perusahaan dan kinerja serta motivasi kerja selama di perusahaan (kompetensi perilakunya).
Dengan sistem itu, perusahaan-perusahaan di Jepang dan diantaranya di Indonesia memenuhi akan pekerja terampil pada semua jenjang, dimana ijazah pendidikan formal yang dimiliki turut menentikan karier.

2.2.3 Manfaat Pelatihan Kerja
Ada banyak manfaat yang bisa kita ambil dengan mengikuti pelatihan kerja. Diantaranya adalah:
a.       mewujudkan pelatihan kerja nasional yang efektif dan efisien dalam rangka meningkatkan kualitas tenaga kerja
b.      memberikan arah dan pedoman dalam penyelenggaraan, pembinaan, dan pengendalian pelatihan kerja
c.       mengoptimalkan pendayagunaan dan pemberdayaan seluruh sumber daya pelatihan kerja.
d.      Untuk menyesuaikan diri terhadap tuntutan bisnis dan operasional-operasional industri sejak hari pertama masuk kerja
e.       Untuk mengurangi waktu belajar bagi karyawan baru agar menjadi kompeten.
f.       Untuk mempersiapkan promosi ketenagakerjaan pada jabatan yang lebih rumit dan sulit, serta mempersiapkan tenaga kerja pada jabatan yang lebih tinggi yaitu tingkatan kepengawasan atau manajerial.
2.2.2 Jenis Pelatihan Kerja
1.      Skill Training
Pelatihan keahlian merupakan pelatihan yang sering di jumpai dalam organisasi. Program pelatihaannya relatif sederhana: kebutuhan atau kekurangan diidentifikasi rnelalui penilaian yang jeli. Kriteria penilaian efektifitas pelatihan juga berdasarkan pada sasaran yang diidentifikasi dalam tahap penilaian.
2.      Retraining
Pelatihan ulang berupaya memberikan kepada para karyawan keahlian-keahlian yang mereka butuhkan untuk menghadapi tuntutan kerja yang berubah-ubah. Seperti tenaga kerja instansi pendidikan yang biasanya bekerja rnenggunakan mesin ketik manual mungkin harus dilatih dengan mesin computer atau akses internet


3.      Cross functional training
Pelatihan lintas fungsional melibatkan pelatihan karyawan untuk melakukan aktivitas kerja dalam bidang lainnya selain dan pekerjan yang ditugaskan.
4.      Team training
Pelatihan tim merupakan pelatihan yang terdiri dari sekelompok individu dimana mereka harus menyelesaikan bersama sebuah pekerjaan demi tujuan bersama dalam tim.
5.      Creativity training
Pelatihan kreatifitas berlandaskan pada asumsi hahwa kreativitas dapat dipelajari. Maksudnya tenaga kerja diberikan peluang untuk mengeluarkan gagasan sebebas mungkin yang berdasar pada penilaian rasional dan biaya.
2.2.3 Metode Pelatihan Kerja
Teknik pelatihan kerja secara umum dibagi menjadi dua yaitu on the job training dan off the job training. On the job training lebih banyak digunakan dibandingkan dengan off the job training. Karena program on the job training lebih berfokus pada peningkatan produktivitas secara cepat. Sedangkan metode off the job training lebih cenderung berfokus pada perkembangan dan pendidikan jangka panjang.
1.         On the Job Training
On the Job Training adalah suatu proses yang terorganisasi untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan, kebiasaan kerja dan sikap karyawan. Dengan kata lain On the Job Training adalah pelatihan dengan cara pekerja atau calon pekerja ditempatkan dalam kondisi pekerjaan yang sebenarnya, dibawah bimbingan dan pengawasan dari pegawai yang telah berpengalaman atau seorang supervisor. Adapun ciri dari on the job training itu sendiri adalah:
a.       Dilaksanakan di tempat kerja
b.      Dilaksanakan pada setiap karyawan baru, pindah ke bagian lain (mutasi), yang berganti tugas dan tanggung jawabnya, karyawan yang menunjukkan prestasi kurang baik dalam pekerjaannya
c.       Dilaksanakan untuk memberikan kecakapan yang diperlukan dalam pekerjaan tertentu sesuai dengan tuntutan kemampuan bagi pekerjaan tersebut sebagai alat untuk kenaikan jabatan
d.      Pengetahuan/keterampilan berupa pengalaman (praktik langsung)
e.       Dilaksanakan secara individual
f.       Biaya relatif kecil

2.         Off The Job Training
Off the Job Training atau pelatihan di luar kerja adalah pelatihan yang berlangsung pada waktu karyawan yang dilatih tidak melaksanakan pekerjaan rutin/biasa. Ciri dari off the job training adalah :
a.       Dilaksanakan dalam suatu ruangan/kelas (di luar tempat kerja)/ dilaksanakan pada lokasi terpisah dengan tempat kerja
b.      Dilaksanakan pada karyawan yang bekerja tetap untuk mengembangkan diri dan pengembangan karir
c.       Dipergunakan apabila banyak pekerja yang harus dilatih dengan cepat seperti halnya dalam penguasaan pekerjaan
d.      Pengetahuan/keterampilan berupa konsep (teori)
e.       Dilaksanakan secara kelompok
f.       Biaya relatif besar


2.3 Pendidikan Kejuruan Bentuk Kooperatif
Pemerintah menyiapkan dan memberikan kondisi yang relatif terpadu dalam pendidikan kejuruan bagi perusahaan-perusahaan swasta dan sponsor swasta lainnya.  Model ini disebut juga model pasar dikontrol pemerintah (state controlled market), model ini disebut model sistem ganda (dual system) yang sistem pembelajarannya dilaksanakan di dua lokasi, yaitu di sekolah kejuruan dan di mitra kerja (dunia usaha dan industri)  yang keduanya saling membantu dalam menciptakan kemampuan kerja lulusan yang handal. 
Tanpa diadakannya pendidikan sistem ganda ini kita tidak dapat langsung terjun ke dunia industri karena kita belum mengetahui situasi dan kondisi lingkungan kerja. Selain itu perusahaan tidak dapat mengetahui mana tenaga kerja yang profesional dan mana tenaga kerja yang tidak profesional. Pendidikan Sistem Ganda memang harus dilaksanakan karena dapat menguntungkan semua pihak yang melaksanakannya.
 Pendidikan kejuruan bentuk kooperatif atau sistem ganda  ini berhasil dan murah di Jerman, Korea Selatan, Australia, Swis, Singapura dan di negara-negara Amerika Latin.
Di dalam sistem ganda dikenal dengan dua tempat belajar :
a.         Divisi pendidikan dan pelatihan untuk pendidikan praktik
b.         Sekolah kejuruan untuk pendidikan teori
Konsep pendidikan sistem ganda pada SMK (1996: 8) menyebutkan tujuan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan dengan pendekatan PSG adalah:
1.         Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional, yaitu tenaga kerja yang memiliki tingkat pengetahuan, keterampilan, dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja.
2.         Meningkatkan dan memperkokoh keterkaitan dan kesepadanan (link and match) antara lembaga pendidikan pelatihan kejuruan dan dunia kerja.
3.         Meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan kerja berkualitas profesional.
4.         Memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman keja sebagai bagian dari proses pendidikan.
                                                                              
2.3.1 Kecenderungna di Indonesia
Indonesia merencanakan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan sistem pendidikan kejuruan sistem ganda dengan melibatkan dunia usaha. Persiapan-persiapan ke arah itu telah dilakukan di tingkat pemerintahan pusat.
Pendidikan kejuruan tingkat pertama dengan sistem ganda telah dilaksanakan oleh P. T PAL bekerja sama dengan STM perkapalan Surabaya sejak beberapa tahun yang lalu. P. T. PAL menyajikan praktik dan STM Perkapalan menyajikan teori. Selesai mengikuti pendidikan dan pelatihan, di samping memperoleh ijazah STM, para siswa juga menerima sertifikat pekerja terampil. Sehingga dengan adanya kedua pencapaian tersebut, mereka dapat dikatakan memiliki kualifikasi ganda.
Di Jerman tingkat itu setara dengan Fachhochschulreife (Ijazah SLTA) plus kualifikasi pekerja terampil. Dengan kualifikasi tersebut, para lulusan dapat melanjutkan pendidikan untuk meningkatkan jenjang kejuruan, misalnya ke politeknik atau bahkan ke universitas bila nilai ijazahnya sangat baik. Pada situasi ini pengalaman praktik yang telah dihimpun, akan sangat bermanfaat dalam menempuh perkuliahan. Selain itu,  dengan adanya kualifikasi keterampilan yang telah dimiliki, para lulusan dapat bekerja di perusahaan dengan baik.
Karena pelatihan dengan P.T. PAL tumbuh lulusan-lulusan dengan kualifikasi baik. Namun meskipun begitu, hanya sebagian kecil dari lulusan yang dapat diterima bekerja di P.T PAL. Sedangkan sebagian besar diserap oleh perusahaan-perusahaan yang lebih kecil. Dengan demikian P.T. PAL telah menyumbangkan kontribusi penting dalam penyediaan pekerja terampil bagi perusahaan menengah dan kecil.
Model pendidikan ini sangatlah patut untuk ditiru, karena lulusan dari model pendidikan semacam itu dapat diserap oleh perusahaan-perusahaan kecil dan menengah  dalam keadaan siap pakai.
Dengan kesuksesnya kerjasama antara P.T. PAL dan STM Perkapalan Surabaya dalam melahirkan lulusan yang berkompeten, maka dapat dikatakan bahwa kedua instansi tersebur merupakan pelopor dalam pelaksanaan kejuruan sistem ganda di Indonesia. Dari situ dapat dihimpun pengalaman kemudian dievaluasi dan direvisi.

2.3.2 Pendidikan Kejuruan Sistem Ganda di Jerman
Peran pemerintah dan dunia usaha dalam penyelenggaraan pendidikan kejuruan di Jerman adalah seimbang. Pemerintah menyusun dan mengesahkan kerang acuan (Undang-undang, peraturan, petunjuk pelaksanaan pendidikan) sebagai ediman pengorganisasian dan pelaksanaan pendidikan,  evaluasi, sertifikasi dan pembagian kewenangan antara pihak-pihak terkait.
Dunia usaha melaksanakan kegiatan pendidikan dan pelatihan secara terpisah dengan berpedoman pada peraturan-peraturan resmi. Biaya pendidikan dan pelatihan ditanggung oleh perusahaan dan dimasukan ke dalam ongkos produksi. Terutama perusahaan-perusahaan kecil dan menengah dapat menutupi kembali biaya yang telah dikeluarkan melalui hasil kerja para pemagang pada tahun pemagangan kedua dan ketiga.
Peranana lain dari pemerintah dalam pelaksanaan pendidikan dan pelatihan adalah berupa penyajian pelajaran teori dan pengetahuan umum yang dilaksanakan di sekolah kejuruan negeri.
Pada tahap awal pendidikan dan pelatihan perusahaan harus menginvestasikan uangnya untuk pelaksanaan pemagangan. Pada tahap ini pemagang belum produktif karena mereka belum memiliki pengetahuan dan keterampilan.  Namun setahap demi setahap kompetensi perilaku mereka bertambah sejalan dengan proses pemagangan itu sendiri, sehingga kontribusi mereka dalam proses produksi mereka makin meningkat pula. Dengan kata lain, uang yang telah dikeluarkan oleh perusahaan  untuk pelaksaan pendidikan dan pelatihan pada tahap awal akan tertutupmelalui “on the job training” dan melalui produktivitas pemagang yang kian meningkat. Oleh sebab itu konsep pendidikan praktik di perusahaan harus disusun sedemikian rupa supaya titik rehabilitas dapat dicapat secepat mungkin, tentunya dengan tetap memperhatikan materi pendidikan dan pelatihan yang harus disampaikan kualitas pelatihan dan pendidikan itu sendiri.
Hampir pada semua kejuruan, titik rehabilitas baru dapat dicapai pada tahun pemagangan kedua.

1.        Keuntungan-keuntungan  Pendidikan Sitem Ganda di Jerman
Keterlibatan langsung dunia usaha dalam pendidikan kejuruan, misalnya di Jerman, memiliki keuntungan-keuntungan sebgai berikut :
a.       Menjamin terselenggaranya proses-proses pendidikan yang fleksibel dan berorientasi pada praktik sehingga pencetakan tenaga terampil berlangsung secara realistis, sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan selalu mengikuti perkembangan teknologi modern.
b.      Sebagian besar biaya pendidikan dan pelatihan ditanggung oleh perusahaan sebab untuk menyelenggarakan pendidikan kejuruan yang berkualitas baik dan dapat menampung sebagian besar generasi muda, tidak mungkin dananya hanya ditanggung oleh Negara. Perusahaan memasukkan biaya  penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kedalam ongkos produksi. Namun seperti sudah diterangkan, pendidikan praktik di perusahaan dikonsep sedemikian rupa sehingga investasi perusahaan , yang jumlahnya tidak sedikit, untuk pendidikan dan pelatihan terutama pada tahun ajaran pertama, dapat ditomboki melalui kontribusi yang produktif dari pemagang pada tahun ajaran berikutnya.
c.       Dengan cara demikianlah, perusahaan-perusahaan di Jerman dapat memperoleh tenaga kerja professional yang sesuai dengan kebutuhan. Di jerman hal ini dapat berjalan dengan lancar karena dunia usaha sejak berabad-abad menyatakan diri “Secara Sukarela” bertanggung jawab dan berkompeten dalam penyelenggaraan pendidikan kejuruan. Sampai kini tidak ada peraturan yang mewajibkan dunia usaha untuk ambil bagian dalam pendidikan kejuruan !
d.      Karena asas pelaksanaan pendidikan kejuruan sitem ganda ditunjukan “untuk semua”, maka ribuan perusahaan, baik yang berskala kecil, menengah maupun besar, menyediakan tempat pemagangan dengan jumlah melebihi kebutuhannya sendiri. Setelah selesai pendidikan tidak ada keharusan bagi siswa untuk bekerja di perusahaan tempat ia magang, atau keharusan bagi perusahaan untuk merekrut siswa yang telah dididik di perusahaan tersebut. Masing-masing pihak memiliki kebebasan utuk menentukan pilihannya.
e.       Dengan terciptanya koordinasi internal yang baik di setiap perusahaan dan sekolah kejuruan berlangsung baik, maka sistem pendidikan kejuruan yang berlandaskan kerja sama ini akan mengungguli pendidikan yang hanya dilaksanakan di sekolah kejuruan saja atau hanya di perusahaan saja. Alasannya adalah karena praktik yang dilaksanakan di perusahaan diperjelas dengan teori yang diberikan di sekolah kejuruan dan teori dari sekolah kejuruan sekaligus divisualisasikan secara realistis di perusahaan, sehingga akan lebih mudah “dicerna”.

2.      Permasalahan Pendidikan Sistem Ganda di Jerman
Tetapi pendidikan kejuruan sistem ganda di Jerman bukan berarti tidak mengandung masalah, seperti diuraikan berikut :
a.    Pendidikan kejuruan di perusahaan bergantung pada laju ekonomi. Artinya, jika laju ekonomi rendah, perusahaan tidak akan mampu meneyediakan tempat pemagangan dalam jumlah yang memadai, sehingga tidak mampumenampung permintaan, sebab-seperti dikemukakan tadi-tidak ada peraturan yang mengharuskan perusahaan untuk melakukan itu.
b.    Perbedaan kualitas pendidikan, terutama pada pendidikan on the job, di mana perusahaan-perusahaan besar pendidikan dan pelatihan berlangsung lebih efektif karena ditunjang oleh tersedianya tenaga pengajar yang terdidik khusus dan sarana teknologi yang lebih modern dan lengkap. Sedangkan perusahaan-perusahaan kecil mengalami kesulitan dalam hal itu. Pengkhususan-pengkhususan bidang usaha di perusahaan-perusahaan menyulitkan penyusunan dan pelaksanaan program pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan standar. Melalui pemusatan pendidikan dan pelatihan yang dikelola oleh Kadin, dimana pendidikan kejuruan dasar dan lanjut dilaksanakan untuk memperkecil kesenjangan tersebut, sekaligus untuk memenuhi standar kurikulum yang sudah digariskan, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif.
c.    Koordinasi yang efektif antara dua tempat pendidikan dan pelatihan, yaitu sekolah kejuruan dan perusahaan, kerap kali sulit dicapai karena keduanya memiliki kepentingan dan muatan kurikulum yang berbeda, misalnya perusahaan lebih cenderung berorientasi pada produksi.
d.   Transparansi antara sistem pendidikan formal dan sistem pendidikan kejuruan tidak dapat diajmin begitu saja, sebab kesetaraan anatara keduanya tidak mudah dicapai.
Dengan segala kelebihan dan permasalahna yang telah diuraikan diatasm sistem pendidikan kejuruan Republik Federasi Jerman kini sudah menjadi unsur yang tidak terpisahkan dari budaya Jerman, setelah sebelumnya secra berabad-abad mengalami perkembangan dan perubahan.
2.4 Transparansi Pendidikan Kejuruan
Dalam sistem pendidikan Indonesia belum terdapat transparansi antara pendidikan formal dan pendidikan kejuruan. Setelah dibahas sekitar 10 tahun, disahkanlah undang-undang pendidikan baru dan ‘sistem pendidikan kejuruan’ baru dalam tahap penataan.
Untuk itu alangkah  baiknya apabila sejak awal mempertimbangkan pula aspek “transparansi” dalam rangka reformasi pendidikan yang akan segera diberlakukan dan mencantumkannya dalam petunjuk pelaksanaan. Prinsip-prinsip berikut hendaknya diperhatikan :
1.        Jalur pendidikan kejuruan nonakademis mempunyai karakteristik tersendiri yang nilainya sama dengan jalur pendidikan formal apabila mampu mentransfer kompetensi kejuruan yang berorientasi penuh pada praktik. Pelajaran teori harus diaplikasikan pada praktik di bengkel dan dalam proses produksi di pabrik. Pelajaran praktik dipertegas denga teori.
2.        Tetapi masyarakat di Negara berkembang cenderung menilai bahwa pendidikan yang banyak teorinya lebih tinggi daripada pendidikan yang berorientasi pada praktik. Ironisnya pandangan ini pun terdapat di Negara-negara industri, termasuk Jerman.
3.        Pendidikan yang berorientasi pada praktik dan dilengkapi  dengan pelajaran teori merupakan proses pendidikan yang sangat kompleks dengan tujuan untuk membekali siswa dengan kualifikasi kejuruan tertentu, supaya mampu berprestasi untuk kepentingan diri sendiri, perusahaan dan untuk masyarakat. Dikatakan kompleks karena selalu mencakup ketiga bidang belajar, yaitu kognitif, psikomotorik dan afektif. Dalam konteks ini, yang dimaksud adalah “dari kepala ke hati kemudian ke tangan“, seperti yang dikatakan oleh H. Nolker dan E. Schonfeldt.
  
   
BAB III
PENUTUP
     3.1  Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan kejuruan sangatlah berperan penting dalam membangun kompetensi perilaku dalam bidang kejuruan tertentu.
Bentuk-bentuk pendidikan kejuruan diantaranya adalah bentuk persekolahan, pendidikan perusahaan dan bentuk kooferatif.
Indonesia telah menerapkan bentuk pendidikan kejuruan kooferatif (Pendidikan Sistem Ganda), dimana dengan adanya kerjasama antara sekolah dan perusahaan dapat menghasilkan lulusan yang berkompetensi, karena selain mempunyai landasan teori yang baik juga mempunyai pengalaman praktik lapangan yang luas.

      3.2  Saran
Dari kesimpulan yang dijabarkan, maka dapat diberikan saran :
Koordinasi antara tempat pendidikan dan perusahaan harus dijaga kelangsungannya dengan baik. Pembelajaran teori yang diberikan di sekolah harus sesuai dengan pelatihan yang akan dilakukan dengan kondisi perusahaan, sehingga tidak menimbulkan masalah anatara keduanya. 



DAFTAR PUSTAKA
Schippers,Uwe. & Djadjang Madya Patrin.(1994). Pendidikan Kejuruan Indonesia (hlm 40-51). Bandung : Percetakan Angkasa.
Nur Rizky, Rahmad (2015). Pengembangan dan pelatihan metode On The Job Training. [Online]. Tersedia : http://rahmadnurrizky.blogspot.co.id/2014/04/pengembangan-dan-pelatihan-metode-on.html, 5 Maret 2016.
Zahidi, Syukron (2014). Pendidikan Kejuruan.[Online].Tersedia :http://izzaucon.blogspot.co.id/2014/06/pendidikan-kejuruan.html, 4 Maret 2016
KSBSI (2016). Pentingnya Pelatihan Kerja[Online]. Tersedia :http://www.gajimu.com/main/tips-karir/pentingnya-pelatihan-kerja, 5 Maret 2016.
Salam, Ratnasari (2015). Tantangan SMK[Online]. Tersedia : http://everyonelookmylife.blogspot.co.id/2015/04/tantangan-smk_99.html , 5 Maret 2016.








1 komentar:

  1. Untuk siapa saja yang membuka halaman ini, mohon komentarnya ya... :)
    kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan keberadaannya :)
    terimakasih

    BalasHapus